Revolusi untuk Inklusi

Revolusi mental sebagai propaganda yang diusung presiden Joko Widodo sejak masa kampanye membawa angin segar bagi kaum difabel. Layaknya malaikat turun ke bumi menjawab doa setiap hamba Tuhan yang mengidamkan inklusi di negeri ini. Kita berharap asa yang terpancar ini membuka jalan bagi kita menuju masyarakat inklusif.

Perubahan cara pandang masyarakat terhadap kehadiran difabel di lingkungan kerja, pendidikan, pergaulan, dan dimana pun, juga merupakan target yang akan direvolusi. Difabel yang banyak dipandang dipandang sebelah mata akan disetarakan dengan diberi kesempatan yang sama untuk melaksanakan tugasnya sebagai warga negara dalam memajukan negeri ini. Tidak hanya masyarakat, kaum elit pemerintahan pun wajib menghapus diskriminasi terhadap difabel dan mengupayakan terpenuhinya hak-hak difabel.


Piagam perjuangan Suharso jadi saksi
Pada masa kampanye, Presiden Joko Widodo menandatangani sembilan piagam perjuangan. Dari sembilan piagam perjuangan yang ditandatangani oleh Jokowi, salah satunya adalah piagam Suharso yang merekam komitmen Jokowi untuk mengatasi masalah-masalah terkait disabilitas. Perjuangan kaum difabel untuk menyuarakan tuntutan mereka akan penegakan hak-hak difabel dibantu oleh komitmen Jokowi yang tertuang dalam piagam ini.

Perjuangan diawali dengan pengakuan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak kaum difabel. Hak-hak difabel yang kerap dirampas dan diacuhkan akan dilindungi oleh undang-undang yang menjamin hak difabel dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pekerjaan, kebudayaan, jaminan pendidikan, dan jaminan sosial sebagaimana telah diatur dalam UUD 1945 dan konvensi PBB.

Kedua, presiden berjanji melaksanakan kewajibannya sesuai amanat konstitusi dalam menegakkan keadilan dan HAM bagi kaum difabel, karena penyandang difabilitas juga manusia, sebagai rakyat Indonesia.

Komitmen yang ketiga ialah perubahan persepsi untuk mengakhiri diskriminasi yang selama ini dialami difabel. Persepsi bahwa penyandang disabilitas adalah masalah sosial yang membebani negara, kelompok masyarakat yang sakit, dan sekedar objek pembangunan sudah seharusnya dirubah. Difabel dipandang sebagai aset yang mampu turut menjadi subjek dalam pembangunan, dalam arti ikut serta dalam berkarya memajukan negeri ini.

Berikut ini piagam Suharso yang telah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo:
(klik untuk memperbesar)
sumber: indonesiarumahrakyat.org






Konvensi PBB
Sebenarnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah lebih dulu mengatur penyetaraan dan perlindungan hak-hak difabel. Melalui Konvensi terhadap Hak-Hak Orang dengan Disabilitas (Convension on the Rights of Persons with Disabilities), PBB melindungi hak-hak difabel yang meliputi penyetaraan non diskriminatif, peningkatan kepedulian, aksesibilitas, hak hidup, perlindungan dari situasi bahaya, kesetaraan di mata hukum, dan sebagainya. Tujuannya dibuatnya konvensi ini ialah melindungi dan menjamin difabel dapat menikmati hak-hak asasi mereka secara utuh dan sama dengan semua manusia. Konvensi tersebut dapat dilihat disini.

Harmoni dalam Inklusi

Inklusi

Inklusi
sumber: ifrc.org
Sebuah kata serapan dari bahasa Inggris "include" ini memiliki definisi bergabung atau bersatu dengan yang lainnya, serta "inclusive" yang berarti mencakup semuanya. Dari pengertian tersebut, dapat diinterpretasikan pengertian inklusi sebagai pandangan bahwa semua orang termasuk sebagai bagian dari masyarakat, serta perlakuan mengikutsertakan semua orang tanpa mengenal perbedaan.

Kaum difabel sebagai minoritas bukan berarti harus dipinggirkan dari masyarakat. Mereka yang memiliki kekurangan fisik maupun mental juga lahir dari masyarakat, hidup di tengah masyarakat, dan mengabdi untuk masyarakat. Hanya kadang beberapa dari kita terlalu angkuh dengan kesempurnaan yang kita miliki dan memarjinalkan mereka yang tidak sempurna, atau bahkan mengkastakan diri di atas mereka. Padahal belum tentu orang dengan kondisi fisik normal lebih baik daripada difabel. Buktinya: Kurnia Khoirul Chandra, difabel tuli berprestasi.

Difabel bukan untuk dikasihani

Jiwa pantang menyerah dan tabah harus tertanam di dalam diri seorang difabel, karena negeri ini belum adil menjamin hak mereka dalam banyak hal, antara lain fasilitas umum, akses pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan. Peluang difabel untuk memperoleh pekerjaan yang layak menjadi sempit karena adanya diskriminasi, namun bukan berarti tidak mungkin, contohnya kisah: Suratman, difabel daksa yang pantang menyerah.

Sebenarnya para difabel berpotensi besar jika saja mereka mendapat kesempatan yang sama dalam memperoleh hak pendidikan dan lapangan pekerjaan. Mereka bisa menjadi otot-otot yang membantu pembangunan negeri. Namun yang kita lihat selama ini, mereka dipandang layaknya beban negara, dan orang sakit meminta belas kasih. Persepsi seperti inilah yang harus kita ubah. Sekarang sudah saatnya mewujudkan revolusi untuk inklusi!


Bersahabat dengan difabel

Kata siapa difabel dan orang normal tidak bisa hidup berdampingan? Aku mengakui, ada rintangan yang menghalangi difabel untuk berinteraksi dengan orang normal. Keterbatasan fisik misalnya penglihatan, pendengaran, lisan, pemikiran, pergerakan, dan sebagainya menghambat interaksi dan komunikasi yang terjadi. Namun yang demikian itu harus dapat kita atasi. Jangan sampai penghalang itu meluluhkan kekompakan kita sebagai saudara sebangsa setanah air. Sebagai contoh, berikut aku curahkan sedikit kisah aku bersama teman difabelku.


Arif, Sahabat Kecilku 
Pernah aku bertetangga dengan anak tunawicara yang sedikit lebih tua dariku, Arif namanya. Kesehariannya selain sekolah di sebuah SLB dilalui dengan mengurung diri di rumahnya. Rumahku yang berhadap-hadapan dengan rumahnya membuatku 'sesekali' melihat dirinya dari sela-sela pagar dan memberikan senyuman walau dibalas dengan raut wajah datar darinya. Bisa melihat batang hidungnya saja merupakan kesempatan yang langka, karena dia terlalu menutup diri dari lingkungan sekitar. Namun demikian aku tertantang untuk mengenalnya, mengetahui keunikan yang ada padanya.
Pelan-pelan aku mendekatinya melalui neneknya. Neneknya yang ramah dan baik hati mendukung langkahku. Nampaknya beliau prihatin dengan Arif yang tidak memiliki teman. Mengetahui bahwa ternyata ia gemar bermain Play Station, aku pun menemukan cara untuk bisa berkenalan dengannya. Neneknya memintaku bermain dengan Arif di rumahnya, dan dengan senang hati aku pun melaksanakannya. Perkenalan antara kami berdua membuatku dan Arif selangkah lebih dekat. Keseruan saat bermain Play Station bersama merekatkan kami menjadi teman dekat.
Karena aku tidak menguasai bahasa isyarat, kesulitan komunikasi verbal yang terjadi antara kami dijembatani oleh nenek Arif yang sering duduk menemani kami bermain. Canda, godaan, cubitan, dan gelitikan pun seringkali aku jadikan bahan tertawaan untuk menghibur Arif.
Satu hal yang sangat aku sayangkan, orangtua Arif kurang memberi perhatian kepadanya dan selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Fadli, Si Aktif dan Periang 
Temanku yang satu ini tinggal di dekat rumahku yang dulu, sebelum aku pindah ke rumah baru. Namun sampai saat ini, sepuluh bulan pasca kepindahanku, masih lekat di memoriku segalanya tentang dia. Mulai dari wajah sampai perangainya yang lugu lagi tabah. Ya, di balik keluguannya tersimpan hati yang tabah luar biasa.
Mungkin aku tidak sekuat dirinya tatkala menghadapi ejekan dari teman-teman sekolah yang tiap hari ia terima. Ia kerap di-bully oleh teman-temannya karena keistimewaan yang ia miliki.
Sebenarnya aku dan dia adalah satu angkatan, karena kami lahir pada tahun yang sama, masuk TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) bersama, dan sering bermain bersama ketika kecil. Namun seiring bertambahnya usia, kedewasaan Fadli tidak juga berkembang, tidak seperti diriku. Ia pun kini (2014) masih duduk di bangku SMK, sementara aku sudah lulus SMA dua tahun yang lalu.
Memang sejak kecil ia dikenal hiperaktif, bahkan hingga saat ini masih juga demikian. Teman-temannya sekarang adalah bocah-bocah kecil yang masih senang berlarian kesana kemari, menaiki sepeda keliling kampung sambil berteriak-teriak, dan memainkan permainan kanak-kanak. Pernah sekali aku memberanikan diri bertanya padanya, walau ada keraguan akan membuatnya tersinggung. "Fadli, kamu kok masih suka main sama anak-anak? Kenapa nggak main sama teman-teman sekolahmu?" tanyaku. Ia pun menjawab, "Enggak ah, teman-teman aku jahat!"
Ia seringkali datang ke rumahku, bukan untuk mencariku, melainkan adikku yang masih belajar di Sekolah Dasar. Bukannya aku enggan bermain dengannya, hanya saja aku tidak lagi sempat meladeninya memainkan permainan anak-anak. Apabila Fadli datang menghampiri adikku untuk mengajaknya bermain, aku pun hanya sekedar basa-basi, mengajaknya bicara sedikit lebih dewasa, menanyakan bagaimana kabarnya, sekolahnya, dan sebagainya. Kadang ketika aku bertemu dengan Fadli yang sedang berjalan pulang dari sekolah, tanpa ragu aku memberinya tumpangan sepeda motor.
Orangtua Fadli tampaknya menerima kondisi anak terakhirnya itu walaupun berbeda dari kakak-kakaknya. Ibunya menyekolahkan Fadli di SMK umum swasta dengan harapan ia dapat menuntut ilmu seperti remaja-remaja kebanyakan. Mungkin di luar sana banyak anak-anak difabel yang dirampas haknya memperoleh pendidikan. Fadli beruntung menemukan sekolah inklusif yang menerimanya, setelah ia ditolak di sekolah-sekolah lain.
Sudah sepuluh bulan aku tidak jumpa dengannya, tidak tahu kabar tentangnya, aku hanya bisa berdoa semoga ia selalu dilindungi Tuhan Yang Maha Esa. Oh iya, kalau tidak salah aku menyimpan foto Fadli...
Fadli dan adikku, Evan

Keceriaan Fadli saat bermain.


Harmoni dalam Inklusi

Difabel adalah orang-orang spesial. Merangkul mereka, membantunya memasuki pergaulan, dan membukakan pintu inklusi untuknya supaya dapat membaur dalam masyarakat adalah kewajiban kita semua. Jangan menganggap perbedaan yang ada merupakan tingkat kasta yang menempatkan mereka di posisi yang lebih rendah dari kita. Kita semua sama!

Coba bayangkan betapa indahnya dunia yang inklusif yang menghargai semua perbedaan. Warna-warni latar belakang dan cara hidup manusia yang beragam sebagai aset berupa kekayaan pluralitas. Tidak boleh ada yang tersisihkan, semua saling merangkul menjadi satu.

Temu Inklusi 2014

Syukur yang Luar Biasa

Setiap pagi aku terbangun oleh kokok ayam yang berseru menyambut mentari. Kemudian aku beranjak dari ranjang meraih jendela, membukanya dengan kedua tangan penuh semangat. Aroma embun yang lembap menyatu dengan oksigen terasa sejuk merasuk ke dalam paru-paru. Terlihat pula pepohonan menari-nari bersama irama angin, menggoyang cahaya mentari yang menembus sela-sela dedaunan. 

Alangkah indahnya suasana pagi hari! Tidak mampu lisanku menahan luapan syukur dalam hati, atas karunia Tuhan yang memberi kesempurnaan pada tubuh ini.

Alhamdulillah...

Ucapku pelan, seakan menambah nada di nyanyian alam pagi hari yang harmonis.

Aku dianugerahi pendengaran, penglihatan, penciuman, lisan, dan tubuh yang lengkap. Tetapi banyak saudaraku yang tidak memiliki kesempurnaan seperti diriku. Adilkah Engkau, wahai Tuhan?

Aku bertanya pada diriku sendiri, "Apakah saudara-saudaraku yang mengalami disabilitas mempertanyakan ketidaksempurnaan yang mereka miliki kepada Tuhan? Pernahkah mereka memprotes? Ataukah mereka meragukan ke-Maha-Adil-an Tuhan?" Pertanyaan ini terus berputar di benakku, sampai akhirnya aku temukan jawabannya di sebuah situs yang beralamatkan: http://solider.or.id. Ternyata ketidaksempurnaan tidak menghalangi seseorang dengan disabilitas untuk berkarya dan tidak pula menjatuhkan semangat dalam menjalani hidup.

Aku yang tertarik pada disabilitas memancing daya imajinasiku untuk membuat karangan cerpen yang terinspirasi dari teman-temanku yang mengalami disabilitas, di antaranya telah aku tulis dalam postingan berjudul "Joni dan Galah Istimewa"

Belajar memahami kaum difabel membuatku mengerti satu hal yang seringkali dilupakan orang-orang normal, yaitu rasa syukur. Bersyukur bisa makan, punya rumah, dan berpakaian adalah hal yang bagus, tapi pernahkah kita bersyukur bisa melihat, bisa bicara, bisa mendengar, bisa berjalan? Rasa syukur seperti itulah yang luar biasa.

Nah, setelah memanjatkan syukur atas kesempurnaan yang kita miliki? Bagaimana sikap kita terhadap saudara-saudara kita yang mengalami disabilitas?

Baca lanjutannya di: Harmoni dalam Inklusi


Temu Inklusi 2014

Cerpen: Joni dan Galah Istimewa

Joni dan Galah Istimewa

karya: Muhammad Labib Naufaldi

Cerpen: Joni dan Galah Istimewa
ilustrasi oleh: Mulanovich

Di sebuah desa kecil di suatu kerajaan, tinggallah empat bersaudara yang hidup yatim piatu. Dani adalah anak sulung yang paling bijaksana dan menjadi pemimpin bagi adik-adiknya, Samsul adalah anak kedua yang paling pandai dan berotak cerdas, kemudian Rudi, anak ketiga yang serakah, namun ambisius dan memiliki kemauan kuat, dan terakhir, anak bungsu dari empat bersaudara tersebut adalah Joni. Ia dilahirkan dengan ketidaksempurnaan dimana matanya tidak dapat melihat. Ia hanya dikandung selama tujuh bulan oleh ibunya yang meninggal dalam sebuah kecelakaan saat mengandung Joni. Beruntung, Joni selamat meski lahir dengan ketidaksempurnaan itu.

Untuk hidup, keempat kakak beradik itu bekerja di perkebunan buah milik kerajaan. Mereka selalu rajin dan kompak dalam bekerja. Namun upah kerja mereka sangatlah minim dan hanya cukup untuk makan. Oleh karena itu, mereka hidup dalam kondisi miskin di sebuah rumah sederhana.

Suatu hari, mereka sedang bekerja di kebun. Sekarang adalah musim mangga. Mereka bekerjasama memanen mangga.

“Huh! Kak, aku lelah. Bolehkah aku beristirahat sejenak?” keluh Rudi sambil menyeka keringat di dahinya. 

Tahun ini, perkebunan mangga diperluas sehingga panen pun melimpah ruah. Para pemetik buah harus bekerja keras untuk memanen mangga dari setiap pohon.

“Baiklah, kakak juga lelah. Kita bekerja keras sejak pagi, kita butuh istirahat sejenak.” ujar Dani. “Samsul! Joni! Berhentilah bekerja! Mari beristirahat sejenak!” panggil Si sulung. Ia mengambil empat buah mangga dari keranjang dan membawanya ke sebuah pohon mangga tua yang berdaun lebat dan teduh. Rudi mengikutinya dari belakang.

“Sebentar lagi, kak! Nanti aku akan menyusul.” sahut Joni sambil tetap meraba-raba pohon, mencari buah mangga sementara Samsul turun dari pohon dengan melompat, kemudian berjalan menuju kedua saudaranya.

“Aduh, kak! Capek aku kalau terus begini. Aku sudah bosan dengan pekerjaan memetik buah. Kita bekerja sepanjang tahun, tetapi hanya mendapat upah sedikit. Andai aku menjadi seorang pangeran. Hidupku pasti tidak susah seperti ini” Rudi kembali mengeluh.

 “Adikku, memang benar yang kau katakan, tetapi kita tidak memiliki pilihan. Ini juga karena kesalahan kita di masa lampau. Seharusnya kita tidak menghambur-hamburkan harta warisan ayah dan ibu.” kata Dani sambil mengupas kulit mangga dengan pisau.

“Ini semua karena kau Rudi! Kalau saja dulu kau tidak membeli kuda, kita pasti masih memiliki uang banyak. Sekarang, kudamu pun kabur entah kemana.” sahut Samsul.

“Tapi kakak juga dulu membeli banyak buku, hingga sempit rumah kita penuh buku-buku. Sekarang pun kakak sudah tidak menggunakannya lagi bukan? Buku-buku itu sudah menumpuk seperti sampah, kak!” ujar Rudi.

“Apa katamu? Buku itu sumber ilmu. Kudamulah sampah sebenarnya!” bentak Samsul.

“Sudahlah, adik-adikku! Janganlah kalian bertengkar! Toh dengan bertengkar uang kita tidak akan kembali. Lebih baik kita ambil pelajaran dari kesalahan kita, untuk tidak menghambur-hamburkan uang.” kata Dani bijak. “Mangga ini sudah selesai kukupas. Sekarang makanlah!”

Joni belum beranjak dari pohon. Ia masih berusaha mencari mangga di sebuah pohon mangga yang rendah.

“Hei, Joni! Apa yang kau lakukan di pohon itu? Sudah tidak ada satupun mangga tergantung disitu. Kemarilah, istirahat sejenak sambil menikmati mangga yang manis!” seru Dani memanggil Joni.

“Dasar bodoh! Mengapa dia repot-repot menjangkau ranting-ranting pohon, padahal sudah tidak ada mangga tergantung disitu?” celetuk Rudi.

“Hush! Joni lebih baik daripada kau yang kerjanya lamban.” sindir Samsul kepada Rudi. Rudi hanya menggerutu dalam hati.

Joni pun menghampiri ketiga kakaknya yang sedang asyik menyantap buah mangga. Ia duduk di sisi luar bayangan pohon. Kemudian Dani mengangkat tubuh mungilnya mendekati batang pohon.

“Duduklah disini! Lebih sejuk dan teduh.” kata Dani. “Jon, mangga yang tersisa hanya yang berukuran kecil. Tunggulah sebentar sementara aku mengambilkan buah mangga yang lebih besar.”

“Tidak usah repot-repot, kak! Sedikit buah mangga pun sudah cukup untuk mengganjal perutku.” kata Joni.

Kemudian Dani mengupas mangga untuk Joni. Joni pun menyantap buah mangga kecil itu dengan riang. Setelah beristirahat, mereka berempat kembali bekerja hingga petang.

Keesokan harinya, raja mengumumkan tentang penyelenggaraan sebuah perlombaan bagi para pemetik buah. Tiga orang pemetik buah yang paling banyak memetik mangga akan mendapat hadiah. Perlombaan dilakukan secara perorangan dan dimulai lusa nanti selama seharian.

Dani, Samsul, Rudi, dan Joni pun tertarik untuk mengikuti perlombaan ini. Dani pun menyusun strategi bersama adik-adiknya untuk memenangkan perlombaan. Mereka berharap dapat memperoleh hadiah demi memperbaiki hidup mereka.

“Adik-adikku, ini adalah kesempatan kita untuk mendapatkan kehidupan seperti dulu. Kita harus berjuang untuk memenangkan lomba itu. Besok kita harus berlatih memetik mangga dengan cepat.” kata Rudi.

“Benar, kak! Kita harus memenangkan lomba. Aku akan berusaha sekuat tenaga!” ujar Rudi semangat.

“Iya, kak! Aku juga akan berjuang dengan seluruh kemampuanku!” ujar Samsul menimpali perkataan Rudi.

Hanya Si bungsu Joni yang membisu. Karena tidak dapat melihat, ia akan kesulitan memetik mangga dengan cepat. Tetapi dalam hatinya, ia juga bertekad untuk bekerja dengan sebaik-baiknya. Sebagai kakak yang baik, Samsul berniat membantu Joni. Samsul pun berpikir keras untuk menciptakan alat yang dapat memudahkan Joni dalam memetik mangga.

Di hari berikutnya, Samsul tidak ikut bekerja memetik buah mangga. Ia tinggal di rumah untuk menciptakan alat bantu untuk adik bungsunya. Joni yang sadar kakak keduanya sedang berusaha membantu dirinya pun berusaha keras memetik mangga dengan cepat untuk mendapat upah harian lebih banyak dari biasanya. Uang itu nantinya akan diberikan sebagian untuk kakaknya, Samsul.

Kebanyakan para pemetik buah hanya bekerja setengah hari. Mereka memiliki pekerjaan lain dan menjadikan pekerjaan ini sebagai kerja sampingan. Namun Dani, Samsul, Rudi, dan Joni menggantungkan dirinya pada pekerjaan ini. Mereka pun sangat terampil dan cekatan dalam memanjat pohon, memilih buah yang sudah masak, dan memetiknya dengan cepat.

Joni yang mengalami kebutaan hanya dapat memetik buah mangga dari pohon yang agak rendah. Ia telah mengenal kebun secara detail, mulai dari letak pohon-pohon mangga yang tinggi dan rendah, pohon yang berbuah lebat, pohon yang buahnya masam dan berbagai karakteristik pohon mangga yang berbeda-beda. Ia mengenali pohon dengan indera penciumannya yang peka. Aroma harum buah mangga begitu dikenalinya. Kualitas buah mangga pun dapat diseleksi dengan mencium aromanya. Meski memiliki modal berupa kepekaan penciuman, Joni tetap kesulitan karena penglihatan merupakan syarat utama untuk memetik buah.

Hari itu, Dani, Rudi, dan Joni bekerja hanya sampai sore hari. Mereka menyimpan tenaga sebagai persiapan untuk perlombaan esok hari. Malam harinya, mereka berkumpul untuk berdoa bersama. Di malam itu pula Samsul menyelesaikan alat bantu untuk Joni, berupa galah yang terbuat dari pipa lebar yang tidak terlalu panjang. Di ujungnya terdapat corong logam dengan bagian pinggir mulutnya diasah hingga tajam. Dengan alat ini, Joni hanya memasukkan mangga yang menggantung di pohon ke dalam corong, kemudian memiringkan galah hingga tangkai buah menyentuh pinggiran corong, dan mangga pun jatuh masuk ke dalam corong yang selanjutnya masuk ke saluran pipa dan diarahkan masuk ke keranjang. Joni pun begitu senang atas bantuan kakaknya, Samsul. Ia juga kagum atas kecerdikan kakaknya itu.

Pada hari perlombaan, empat bersaudara itu datang dengan bersemangat. Mereka datang paling pagi ke perkebunan. Mereka pun menunggu dimulainya lomba yang bertepatan dengan terbitnya matahari.

Para pemetik buah lain mulai berdatangan. Ratusan orang berkumpul di gerbang kebun, menunggu terbitnya matahari. Pengawas lomba yang terdiri dari pengawal kerajaan pun bersiap di belakang pintu gerbang.

Cahaya mulai tampak di ufuk timur. Semua orang di kebun mulai berdesakan ingin bergegas masuk. Kini Sang Surya mulai menampakkan wajahnya. Pengawas mulai membuka pintu gerbang dengan perlahan. Para pemetik buah yang tidak sabar pun menerobos celah gerbang dan berlarian menghampiri pohon-pohon mangga di kebun luas itu. Dani, Samsul, dan Rudi pun demikian, namun Joni terpisah dari mereka. Ia terdorong-dorong dalam kerumunan yang berlarian memasuki kebun.

Ratusan peserta lomba langsung memetik buah mangga dengan cepat, bahkan daun-daun pun berguguran karena pohon ditunggangi beberapa orang sekaligus, diguncang-guncang, dan disabet-sabet dengan galah.
Joni berlari melewati orang-orang yang bersusah payah memetik mangga menuju lahan perkebunan bagian belakang. Pepohonan mangga di situ belum tersentuh pemetik mangga lain. Buah-buahnya pun masih banyak dan harum. Joni dengan mudah mendeteksi letak buah mangga dengan penciumannya, kemudian memetiknya dengan galah istimewa miliknya.

“Kedengarannya semua orang bekerja sangat gigih. Aku harus bekerja lebih keras dari mereka!” pikirnya dalam hati.

Mentari telah sampai di puncak langit. Siang hari yang panas menjadi tantangan bagi para peserta lomba. Satu persatu mereka kelelahan dan memilih berhenti bekerja untuk beristirahat di bawah pohon.

Joni yang bermandi peluh menghiraukan teriknya matahari. Ia tidak melihat peserta lain yang beristirahat, ia hanya konsentrasi pada pohon mangga yang sedang dihadapinya.

Hari menjelang sore, jumlah pemetik buah yang tersisa semakin berkurang. Dani, Samsul, dan Rudi masih bekerja. Mereka belum puas dengan belasan keranjang berisi buah mangga yang mereka kumpulkan masing-masing. Namun akhirnya mereka dilanda kelelahan.

“Kakak! Aku sudah tidak kuat lagi. Aku lelah setengah mati!” keluh Rudi. Ia duduk di antara keranjang-keranjang penuh buah.

“Hanya itukah kemampuanmu? Janganlah menyerah secepat itu! Kehidupan yang lebih baik sudah menanti kita.” kata Dani dari atas pohon mangga.

“Aku juga capek, kak! Aku hampir kehilangan napas. Lebih baik aku menyudahi ini.” ujar Samsul dengan terengah-engah.

“Kak, lihatlah peserta lain! Jumlah mangga yang mereka dapat hanya beberapa keranjang. Aku rasa mangga yang kita dapat jauh lebih banyak.” Rudi menunjuk ke keranjang-keranjang para pemetik buah lain.

“Baiklah, kalau begitu kita istirahat sambil menunggu sampai proses penghitungan dimulai.” Dani pun turun dari pohon dan duduk di samping Rudi.

“Oh, iya. Joni dimana, kak?” tanya Samsul sambil melihat sekitar.

“Hah? Aku baru sadar, sejak tadi Joni tidak bersama kita! Kemana dia, ya?” Dani balik bertanya.

“Sudahlah, mungkin saja dia sedang istirahat di tempat lain, atau pergi membeli minuman.” sahut Rudi.

Mereka pun beristirahat di pohon hingga matahari mulai terbenam. Sementara itu, Joni yang berada jauh dari mereka masih giat memetik mangga. Tanpa disadarinya, ia telah mengumpulkan sekitar tiga puluh keranjang buah mangga.

Mega merah mulai datang menghiasi langit senja. Mentari pun terbenam di balik pepohonan mangga. Pengawas lomba mengumumkan bahwa perlombaan telah berakhir dan akan dimulai sesi penghitungan buah mangga. Penghitungan dilakukan berdasarkan jumlah buah mangga yang mereka dapat.

Petugas penghitung mendatangi perkebunan dan menghampiri setiap keranjang yang berlabel nomor sesuai nomor masing-masing peserta lomba. Peserta lomba dikumpulkan ke aula istana untuk menunggu pengumuman pemenang. Joni datang terakir dan duduk paling belakang karena perjalanan yang ditempuhnya lebih jauh, namun ia beruntung karena seorang pengawas lomba baik hati bersedia menuntun pemuda buta tersebut.

Penghitungan membutuhkan waktu cukup lama karena banyaknya jumlah peserta. Sampai larut malam, mereka masih menunggu sambil bercakap-cakap.

Beberapa waktu kemudian, Sang Raja datang dengan dikawal dan kemudian naik ke mimbar yang tingginya sekitar dua meter. Ia menyampaikan beberapa patah kata sebagai sambutan, selanjutnya ia akan mengumumkan pemenang lomba memetik buah.

“Sebelum mengumumkan pemenang, aku ingin berterimakasih kepada kalian atas pengabdian kalian kepada kerajaan. Kalian telah bekerja dengan sangat keras, aku menghargai kegigihan kalian. Untuk itu, aku akan menaikkan upah pekerja kebun sebesar dua kali lipat!” kata Sang Raja lantang.

Seluruh hadirin di aula pun bersorak girang. Mereka begitu senang atas keputusan Raja. Dengan ini, kesejahteraan mereka akan membaik.

“Baiklah, sekarang aku akan menunjukkan hadiah yang akan diperoleh oleh tiga pemenang lomba. Ini dia!!!”

Kemudian tiga orang pelayan kerajaan membawakan tiga kotak misterius yang diletakkan di atas meja di depan mimbar. Tiga kotak itu ada yang besar, ada yang kecil,  dan ada yang berukuran sedang.

“Siapakah tiga orang beruntung yang akan mendapatkan hadiah-hadiah ini?”

Raja kemudian mengambil selembar kertas dan membacanya. Seluruh peserta lomba menjadi tegang. Mereka berharap menjadi pemenang.

“Hadirin sekalian, pemenang lomba ini ternyata dari tiga bersaudara. Pemenangnya adalah peserta nomor 142, 143, dan 144 yaitu Dani, Rudi, dan Joni dari keluarga Bapak Darman!”

Dani, Rudi, dan Joni sangat gembira. Mereka berteriak kegirangan. Joni yang duduk di belakang berulang kali mengucap syukur. Dani maju ke hadapan Raja. Postur tubuhnya yang kekar dan tinggi memukau peserta lain. Rudi yang berjalan di belakangnya pun tidak henti-hentinya melompat riang, sedangkan Joni berjalan perlahan dari belakang sambil membawa galah miliknya.

Ketiganya berdiri sejajar di depan meja, menghadap mimbar.

“Aku bangga kepada kalian, tiga bersaudara yang mengabdi dengan sepenuh hati. Sekarang kalian akan mendapatkan penghargaan atas pengabdian kalian. Di depan kalian ada hadiah berupa barang-barang berharga. Silakan kalian ambil hadiah yang kalian suka!” Raja mempersilakan Dani, Rudi, dan Joni mengambil kotak di depan mereka.

Dengan seketika, Dani dan Rudi menyambar kotak itu. Tangan Joni meraba-raba meja mencari kotak terakhir. Akhirnya ia pun mendapat kotak yang paling kecil. Dani memilih kotak hitam yang berukuran sedang, tetapi paling berat. Sedangkan Rudi mengambil kotak warna-warni yang ukurannya paling besar.

“Baiklah, masing-masing dari kalian telah memegang hadiah. Dani sebagai juara pertama, boleh membuka hadihnya terlebih dahulu.” perintah Sang Raja.

Dani membuka kotak berat itu, kemudian ia terkejut karena isi kotak itu adalah sebuah peti berisi ratusan koin emas. Ia pun sangat gembira.

Kini giliran Rudi sebagai juara dua untuk membuka hadiah. Namun ia bingung karena di dalam kotak besar itu masih terdapat kotak yang di dalamnya ada kotak pula. Akhirnya setelah membuka lima lapis kotak yang membungkus hadiahnya, ia menemukan sebuah peti berukuran lebih kecil dari milik kakaknya yang berisi ratusan koin perak.

Terakhir, Raja memerintahkan Joni membuka kotak hadiah kecilnya. Dengan sabar Joni membuka kotak itu, dan didapatinya sebuah gulungan kertas. Karena buta, ia tidak dapat membaca kertas tersebut. Kemudian dengan cepat Rudi menyambar kertas itu.

“Hahaha… Apa yang kau dapat ini? Secarik kertas tak bergunakah?” ejeknya.

Rudi pun membuka gulungan kertas kecil itu dan membacanya.

“Ada tulisan di kertas ini, isinya ‘SELAMAT, ANDA MENDAPAT SEBIDANG KEBUN BUAH MANGGA SELUAS 50 HEKTAR!’ Apa? Mengapa hadiahnya lebih besar? Ini tidak adil!” Rudi tidak terima karena adiknya mendapat hadiah yang jauh lebih besar dari hadiah yang ia dapat.

“Baginda, sebenarnya dia telah berbuat curang! Dia tidak pantas menerima hadiah ini! Lihatlah galah yang dibawanya! Itu berbeda dengan galah yang dipakai peserta lain!” bentak Rudi.

“Tetapi peraturan tidak melarang peserta menggunakan galah seperti itu,” kata Raja tegas.

“Apa? Kau ini Raja yang tidak adil!” Rudi kembali memprotes.

“Apa katamu? Penjaga, kirim anak kurang ajar ini ke penjara!” Sang Raja mmenjadi marah.

Dani dan Joni tidak berkata apa-apa. Mereka tidak berani menentang perintah Raja. Begitu pula dengan Samsul. Ia hanya tertunduk sedih.

Penjaga istana pun membawa Rudi keluar istana. Rudi memberontak, namun ia tidak dapat keluar dari cengkeraman tangan penjaga yang memegangi lengannya.

“Hei, anak yang sedari tadi menunduk. Namamu Joni, benar?” tanya Raja.

“Benar, Baginda.” jawab Joni singkat.

“Mengapa engkau menggunakan galah yang berbeda dari peserta lain?”

“Sebenarnya hamba ini buta, Baginda.” Joni mengangkat kepalanya, hingga Raja dapat melihat matanya yang buta. Sejenak kemudian Raja menitikkan air mata.

“Aku terharu atas kegigihanmu dalam bekerja, walau mengalami kekurangan fisik.” kata Raja sambil mengusap air matanya. “Sebenarnya aku memiliki putri yang tidak bisa mendengar. Namun selama ini ia malu menampakkan diri ke masyarakat.”

Segenap hadirin kaget, mereka tidak percaya pada ucapan Raja. Selama ini mereka mengetahui bahwa Sang Raja hanya memiliki satu orang putra. Kemudian datanglah seorang Putri ke ruangan itu. Dialah Putri Luna! Dengan hati-hati ia menaiki mimbar dan berdiri di samping Raja. Ia sangat cantik dengan mengenakan gaun berwarna putih.

“Wahai Joni, aku belum menemukan jodoh untuk putriku. Maukah engkau menikahinya?” pinta Sang Raja.

“Ampuni hamba, Baginda Raja. Sesungguhnya aku sungguh bersedia menikahi Tuan Putri. Ia akan menjadi mata bagiku, dan aku akan menjadi telinga serta mulut baginya. Aku pun akan mengajaknya berpartisipasi menjadi bagian dari masyarakat dan menghilangkan rasa malu yang selama ini mengganjal hatinya.” tutur Joni sopan. “Namun hamba mohon dengan sangat, tolong bebaskan kakak hamba, Rudi. Maafkanlah ia!” lanjutnya.

Sang Raja berpikir sejenak. Kemudian ia mengangguk tanda setuju. Rudi akan dibebaskan. Raja pun menutup acara itu, dan peserta yang hadir bergegas pulang. Joni, Dani, Samsul, dan Rudi tinggal satu malam di istana untuk perencanaan pernikahan Joni dengan Putri Raja. Akhirnya diputuskan, Joni dan Putri Luna akan menikah minggu depan.

Joni merasa sangat senang. Ia akan tinggal di istana, dan kakak-kakaknya akan dibuatkan rumah besar dan diberikan sebidang kebun dan peternakan. Rudi pun berubah menjadi lebih baik. Ia tidak lagi dengki, sombong, dan meremehkan orang. Keempat bersaudara itu pun hidup bahagia dalam lindungan kerajaan.

Cerpen ini juga pernah dimuat di:
http://cerpenmu.com/cerpen-nasihat/joni-dan-galah-istimewa.html
http://www.kartunet.com/joni-dan-galah-istimewa-1081

3 Desember, Hari Difabel Internasional

Di antara hari-hari besar yang dirayakan dalam satu tahun, mungkin Hari Difabel Internasional (International Day of Persons with Disabilities) adalah salah satu yang kurang dihiraukan. Coba kamu tanya orang-orang disekitarmu, kapankah hari besar internasional ini diperingati? Mungkin kamu hanya akan mendapat jawaban berupa gelengan kepala atau kernyitan dahi.

International Day of Persons with Disabilities (IDPD) atau Hari Difabel Internasional diperingati setiap tanggal 3 Desember. Penetapan tanggal 3 Desember sebagai Hari Difabel Internasional dilakukan melalui Resolusi Nomor 47/3 Tahun 1992 oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pada hari besar ini terselenggara banyak event di banyak negara, baik yang diorganisir oleh PBB maupun hasil inisiatif negara yang memiliki kepedulian terhadap kaum difabel. Event tersebut juga dimanfaatkan sebagai ajang kampanye kepada masyarakat untuk meningkatkan perhatian kepada kaum difabel. Tetapi bukan berarti perhatian terhadap kaum difabel hanya diberikan pada hari ini, melainkan setiap saat dan sepanjang tahun.
sumber: enabled.in

Kaum difabel adalah kaum minoritas terbesar di dunia. PBB memperkirakan ada lebih 15% penduduk dunia mengalami disabilitas. Jika dihitung, maka jumlahnya lebih dari 1 miliar orang. Jumlah yang cukup banyak ini menyebabkan kita tidak terlalu sulit menemukan orang dengan disabilitas di sekitar kita.

Seringkali ada rintangan yang menghalangi kaum difabel untuk ikut serta dalam interaksi di lingkungan sekitar dan masuk ke masyarakat. Melalui peringatan ini, kita bersama-sama harus menyingkirkan penghalang tersebut supaya kaum difabel dapat berpartisipasi penuh di dalam kehidupan sosial.

sumber: acpet.edu.au


Referensi

http://www.un.org/disabilities/default.asp?id=1597
http://www.andriewongso.com/articles/details/5905/Hari-Difabel-Internasional

Rumus Kebahagiaan dari Mbah Google

Siapa yang tidak kenal mbah Google? Raksasa teknologi yang bermarkas di Mountain View, California, AS ini diandalkan banyak orang untuk mencari informasi melalui mesin pencari Google miliknya. Selain mesin pencari, banyak juga layanan serta aplikasi online seperti Google Mail, Google Drive, Google Maps, Youtube, dan masih banyak lagi. Bisa dibilang, besarnya kerajaan Google seakan menguasai dunia maya yang kian luas.
Rumus Kebahagiaan dari Mbah Google
bbc.com

Namun siapa yang menyangka, salah satu insinyur Google tidak hanya mengurusi masalah teknologi, tetapi juga tentang psikologi dan kehidupan. Dialah Chad-Meng Tan, salah satu insinyur sesepuh Google yang mencetuskannya.
Awalnya dia khawatir terhadap rekan-rekan kerjanya yang mengalami stress dan tidak bahagia dalam pekerjaan. Kemudian dia berinisiatif untuk membuat pelatihan yang diberi nama "Search Inside Yourself" yang kemudian dibuat pula buku dengan judul yang sama. 

Nah, kalau kamu penasaran bagaimana sih rumus untuk hidup bahagia versi mbah Google, ini dia:

Langkah 1. Tenangkan pikiranmu

Tenangkan Pikiran
huffingtonpost.com
Langkah pertama yang diajarkan oleh Om Chad-Meng Tan adalah melatih pernafasan. Tujuannya adalah untuk menenangkan partikel-pertikel halus yang ada di otak. Banyak ahli bilang (dibuktikan oleh 209 studi), meditasi baik bagi kesehatan mental dan mampu mengurangi depresi, stress serta gelisah.

Bahkan beberapa peneliti mengakui bahwa reduksi stress setelah meditasi dapat menghambat penuaan. Om Meng pun menyarankan, istirahatlah sejenak di siang hari ketika beraktivitas dan mengatur pernafasan.



Langkah 2. Ingatlah Waktu-Waktu Senang

Ingat Waktu-Waktu Senang
quotes-kid.com
Misalnya mood kamu sedang bagus di pagi hari, semangat sambil menikmati secangkir kopi dan bercanda bersama teman-teman kamu, tentu kami merasa senang bukan? Lalu saat hal yang kurang menyenangkan terjadi membuat kamu bete seharian, seakan waktu-waktu menyenangkan yang sudah kamu lalui seakan tidak terjadi. Kamu terus menyimpan kejadian buruk yang menimpa kamu sampai pada malam hari kamu menyimpulkan, 'hari ini adalah hari yang menyedihkan'. Itulah yang harus kamu hindari. Sebaiknya kamu tekankan momen-momen bahagia dalam memori kamu, dan buang pikiran negatif.

Peneliti bidang psikologi, Barbara Fredrickson menyatakan bahwa dibutuhkan perbandingan antara hal positif dan negatif sebesar 3:1 untuk membebaskan pikiran dari yang namanya negative thinking. Ada juga sebuah penelitian pada tahun 2006 membuktikan, orang yang menuliskan pengalaman positifnya di buku diary memiliki rasa syukur yang lebih besar, dan efeknya bertahan sampai dua minggu ke depan.



Langkah 3. Berharaplah Orang Lain Juga Bahagia

Menurut Meng, pemikiran altruistik (mementinkan kepentingan orang lain) sangat baik bagi kita karena dengan memberi, kita mendapat lebih banyak kebahagiaan daripada menerima. Jadi, untuk mendapatkan kebahagiaan, bahagiakanlah orang lain. Jangan bahagia sendirian, apalagi sedih melihat oranglain bahagia.
Berbagi Kebahagiaan
flashuser.net




Informasi ini sumbernya dari sini:
http://www.bbc.com/future/story/20141110-googles-algorithm-for-happiness

Indonesia Terancam Krisis Pangan

Opini oleh: Muhammad Labib Naufaldi

Pangan, kebutuhan pokok umat manusia kian mahal harganya. Harga pangan dunia terus menanjak mengingat populasi dunia yang terus tumbuh, menambah jumlah perut yang harus diisi. Sementara ketersediaan pangan belum tentu menjamin tercukupinya konsumsi 7,2 Miliar manusia di bumi.

sumber gambar: timeinc.net
Indonesia pun menjadi negara yang harap-harap cemas akan hal ini. Ketergantungan pada impor memaksa bangsa ini takut akan gejolak harga pangan dunia. Bagaimana tidak takut? Hidup mati bangsa ini bergantung pada produksi pangan negara lain. Indonesia belum mampu melakukan swasembada pangan, mengempani mulut sendiri dengan makanan hasil tanam sendiri. Bisa dibilang, negeri ini belum berdaulat di bidang pangan.

Kebutuhan pangan yang tinggi tidak ditunjang oleh kekuatan sektor agraria. Fokus pemerintah di sektor ini hanya kuat di atas kertas, tetapi lemah pada praktiknya. Segudang program swasembada hanya menjadi wacana yang tidak habis-habis, sementara upaya realisasinya tidak sebanding dengan target swasembada. Ditambah lagi, produktivitas pertanian kita semakin loyo dari masa ke masa bersama usia para petani tanpa adanya regenerasi dan tenaga baru untuk menggarap tanah subur negeri ini. Akhirnya, impor komoditas utama menjadi andalan untuk menutupi rendahnya produksi pangan dalam negeri. Melihat fakta yang ada, masihkah Indonesia layak menyandang titel ‘negara agraris’?

Alih fungsi lahan pertanian, tergusurnya produk pertanian lokal, minimnya penerapan teknologi pertanian, dan tak terkendalinya pertumbuhan penduduk memperparah kondisi tersebut. Belum lagi aspek lingkungan yang dewasa ini seringkali tidak berpihak kepada pertanian. Hama, problema ekologis, degradasi kualitas tanah, serta perubahan iklim sering membuat para petani menangis meratapi sawah mereka yang gagal panen.

Jangan sampai situasi seperti ini dibiarkan berlarut-larut karena krisis pangan sudah di depan mata. Komoditas pokok yang selama ini kita impor akan menjadi tali pengekang leher kita. Kita bergantung pada harga pangan dunia yang akan mencekik kita. Ketika harga pangan global melonjak, ambruklah ekonomi bangsa ini. Perekonomian akan kacau balau, kemiskinan meningkat, dan otomatis masalah-masalah sosial politik akan merebak. Ingat bagaimana kekacauan ekonomi menjadi akar krisis multidimensional di era orde baru?

Bisa jadi, di masa mendatang sektor pangan akan memegang kendali ekonomi dunia. Kita bisa lihat saat ini, ketika bank dunia menyatakan lonjakan harga pangan global tidak lepas dari situasi yang dialami para produsen pangan dunia, seperti Amerika Serikat, Ukraina, Thailand, dan Cina. Permasalahan internal negara-negara tersebut mengangkat harga pangan ke level tertinggi selama 10 bulan pada Maret lalu sebagaimana disebutkan FAO. Dampaknya pun dirasakan oleh para importir pangan, tidak terkecuali negara kita.

Indonesia harus berdaulat di bidang pangan dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Optimalisasi produksi pangan serta penyediaan stok pangan yang memadai untuk stabilitas harga pangan tampaknya dapat menjadi perisai yang cukup kuat untuk menjaga perekonomian negeri dari fluktuatifnya harga pangan dunia. Tentunya untuk mewujudkan hal itu diperlukan pembangunan sektor agraria. Dimulai dari peningkatan produktivitas pertanian melalui penyediaan lahan, infrastruktur, dan teknologi pertanian. Karya-karya serta inovasi anak bangsa di bidang pertanian pun jangan hanya dipuji-puji dan dikagumi, tetapi juga dimanfaatkan untuk perkembangan pertanian negeri.


Pembangunan pertanian juga harus didukung oleh pengembangan SDM di bidang pertanian agar semakin banyak armada petani yang menggeluti sektor yang strategis ini. Langkah yang bisa ditempuh misalnya edukasi melalui akademi pertanian, peningkatan kualitas institut pertanian yang sudah ada, dan yang tidak kalah penting ialah menciptakan tren pertanian di kalangan pemuda dan perbaikan citra pertanian. Menggalakkan kampanye tentang sentralitas sektor agraria dan menjamin kesejahteraan petani mungkin bisa ditempuh supaya semakin banyak generasi penerus bangsa yang mengarahkan pandangan masa depan mereka menuju tanah-tanah negeri yang meminta untuk digarap.